Difusi dan Inovasi Pendidikan

Proses Penyaluran Inovasi

 

Pendidikan merupan usaha sadar dalam rangka untuk mencapai perubahan. perubahan itu mencakup keterampilan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Difusi adalah proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dari waktu ke waktu.

 

# beberapa hambatan dalam proses penyaluran komunikasi :

1. adanya Perbedaan

2. mengetahui karakteristik dari adopter

* dalam proses penyaluran inovasi terdapat bebrapa strategi yaitu secara terbuka dan organisasi.

* tahapan strategi jalur terbuka :

– mengidentifikasi calon pengguna utama

– memperkenalkan inovasi
– membujuk calon pengguna utama

– memberikan pendampingan kepada pengguna utama

 – memberikan penguatan

– memberikan pengguna yang mantap menjadi agen pembaharuan

 

* tahapan strategi jalur organisasi :

– mengidentifikasi keputusan puncak sampai lini pertama

– memperkenalkan inovasi

–  membujuk para pengambil keputusan untuk komitmen

– membantu pengguna inovasi

– memberikan pendampingan kepada pengambil keputusan

Pengambilan keputusan dalam jalur organisasi biasanya menggunakan keputusan otoritas, yakni keputusan kepala secara langsung.

 

*proses penyaluran inovasi :

Inovasi   ————–>    Adopter

Menurut Roger, tahapan proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap :

1. Tahap pengenalan

2. Tahap Bujukan

3. Tahap keputusan

4. Tahap Implementasi

5. Tahap Konfirmasi

Model Tahap-Tahap Proses Kepurusan Inovasi : (Rogers, 1982:165)

 

 
   

 

 
   

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

 
 

Skripsi Pencak Silat

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Hakekat Pencak Silat

Pencak silat adalah cabang olahraga yang berupa hasil budaya manusia Indonesia untuk membela / mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan intergritas terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup, meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sucipto, 2001:27).

Pencak di definisikan sebagai gerak dasar beladiri yang terikat pada aturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan. Silat dapat diartikan sebagai gerak beladiri yang sempurna yang bersumber pada kerohanian yang suci murni guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, serta untuk menghindarkan manusia dari bencana/bahaya. Peranan pencak silat adalah  sebagai sarana dan prasarana untuk membentuk manusia seutuhnya yang sehat, kuat, tangkas, terampil, sabar, ksatria, dan percaya diri.

Pencak silat mempunyai 4 aspek yang mencakup nilai-nilai luhur sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan, aspek tersebut meliputi :

  1.   Aspek Mental Spiritual

–          Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

–          Tenggang rasa, percaya diri dan disiplin.

–          Cinta bangsa dan tanah air.

–          Solidaritas social, jujur, membela kebenaran dan keadilan.

  1. Aspek Beladiri

–          Berani dalam membela kebenaran dan keadilan.

–          Tahan uji dan tabah.

–          Tangguh dan ulet.

–          Tanggap, peka, dan cermat.

  1. Aspek Seni

–          Mengembangkan pencak silat sebagai budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur.

–          Mengembangkan pencak silat yang diarahkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian bangsa.

–          Mencegah penonjolan secara sempit nilai-nilai pencak silat yang bersifat kedaerahan.

–          Menanggulangi pengaruh kebudayaan asing yang negatif.

  1. Aspek olahraga

–          Berlatih dan melaksanakan olahraga pencak silat sebagi bagian dari kehidupan sehari-hari.

–          Meningkatkan prestasi.

–          Menjunjung tinggi solidaritas.

–          Pantang menyerah

 

2.1.1        Sejarah Pencak Silat

Pencak silat merupakan salah satu unsur budaya peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang saat ini sudah berkembang sampai ke manca negara. Pencak silat adalah suatu cabang olahraga kebanggaan bangsa dan rakyat Indonesia yang lahir dan berkembang di bumi pertiwi untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan mencapai keselarasan hidup, serta meningkatkan iman dan taqwa kepada tuhan Yang Maha Esa.

Pada pesta-pesta olahraga baik tingkat regional, nasional, maupun internasional, pencak silat sudah sejajar kedudukannya dengan cabang olahraga lainnya. Hal ini telah terbukti dengan dibentuknya Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT) pada tanggal 1 Maret 1980. Dengan demikian pencak silat bukan saja milik bangsa Indonesia tetapi sudah milik bangsa-bangsa lain di Dunia.

 Para pendekar, dan perguruan progresif mengupayakan untuk membentuk pencak silat sebagai olahraga. Mereka berjuang keras untuk meyakinkan bahwa pencak silat perlu dikembangkan sebagi olahraga agar tidak musnah dimasyarakat. Alasannya, bahwa dengan berakhir masa peperangan, pencak silat sudah kehilangan peran sebagai saran bela diri. Dalam upaya mencari peran baru, yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, pencak silat sebaiknya dicoba untuk dipertandingkan.

Uji coba pertandingan pencak silat pertama diadakan antara pendekar-pendekar di Stadion Kalisari, Semarang tahun 1957. Pertandingan ini menggembirakan, karena berjalan dengan lancar, tanpa ada kecelakaan. Namun, uji coba di tempat lainnya tidak begitu berhasil, karena peraturan masih sangat longgar dan kontak antara pesilat tidak dibatasi. Akibatnya banyyak terjadi cedera, bahkan sampai mengakibatkan kematian. Selanjutnya, pencak silat hanya dijadikan acara demonstrasi di Pekan Olahraga Nasional I (PON I) tahun 1948 sampai PON ke-VII tahun 1969. Pencak silat untuk pertama kali tampil sebagai cabang olahraga prestasi dan dipertandingkan secara resmi yaitu pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta.

Sejak saat itu dapat dikatakan Pencak Silat Tanding mengalami perkembangan pesat, baik teknik-teknik yang terus diperhalus agar lebih efektif dan efisien dan tidak bersifat mencelakai, maupun dalam bidang pembinaan dan pelatihannya. Pembinaan dan pelatihan Pencak Silat semakin disesuaikan dengan ilmu dan prinsip-prinsip olahraga, yang secara umum menitikberatkan kepada kemampuan maksimal tubuh. Kemampuan tersebut dibedakan menjadi beberapa spesifikasi, yaitu : strength (kekuatan), endurance (daya tahan), speed (kecepatan), flexibelity (kelentukan), agility (kelicahan), fitness (kesegaran jasmani) dan reaction (reaksi) (Kosasih, 1993:21).

 

2.1.2        Teknik Dasar Pencak Silat

 “Gerak dasar pencak silat adalah suatu gerak terencana, terarah, terkoordinasi dan terkendali, yang mempunyai empat aspek sebagai satu kesatuan, yaitu aspek mental spiritual, aspek beladiri, aspek olahraga, dan aspek seni budaya. Dengan demikian, pencak silat merupakan cabang olahraga yang cukup lengkap untuk dipelajari karena memiliki empat aspek yang merupakan satu kesatuan utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan (Lubis, 2004 : 7).

Teknik dasar dalam cabang olahraga pencak silat, meliputi :

a). Kuda-kuda                                     e). Hindaran

b). Sikap pasang                                  f). Serangan

c). Pola langkah                                   g). Tangkapan

d). Belaan

Dalam pertandingan pencak silat teknik-teknik di bawah ini tidak semua digunakan dan dimainkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan kategori yang dipertandingkan. Kategori tersebut diantaranya :

–          Kategori tanding     : kategori yang menampilkan dua orang pesilat dari kubu yang berbeda.

–          Kategori tunggal     : kategori pertandingan pencak silat yang menampilkan seorang pesilat memperagakan kemahirannya dalam jurus baku tunggal secara benar, tepat, dan mantap, penuh penjiwaan dengan tangan kosong dan bersenjata.

–          Kategori ganda       : pertandingan pencak silat yang menampilkan dua orang pesilat dari kubu yang sama memperagakan kemahiran dan kekayaan teknik jurus beladiri pencak silat yang dimiliki dengan keterampilan serang dan bela.

–          Kategori regu          : pertandingan pencak silat yang menampilkan tiga orang pesilat dari kubu yang sama memperagakan kemahiran dalam jurus baku regu secara benar.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 : Target (pecing ped)

Sumber :http://www.mojokerto.info/sentra-industri/alat-bela-diri/

 

2.1.2.1 Serangan Tangan

Serangan tangan terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu : (1) serangan dengan tangan dan (2) serangan siku.

Ada beberapa serangan tangan, diantaranya :

–          Pukulan

Pukulan adalah semua jenis teknik menyerang yang dilakukan dengan menggunakan tangan dalam posisi terkepal. Teknik pukulan ada beberapa macam, yaitu : pukulan depan, pukulan samping, pukulan sangkol, dan pukulan lingkar.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 : Pukulan depan

Sumber :Lubis (2004 : 22)

–          Sikuan

Teknik sikuan merupakan teknik yang efektif dipergunakan untuk pertarungan jarak dekat. Teknik sikuan ada beberapa macam, yaitu : sikuan dalam dan sikuan samping.

 

2.1.2.2 Serangan Kaki

Serangan kaki yang banyak dan sering digukanakan dalam pertandingan pencak silat terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya : tendangan lurus, tendangan sabit, dan tendangan T.

 

 

                                   

 

 

 

Gambar 3 : Tendangan Jejag

Sumber : Lubis (2004 : 26)

 

2.2 Pengertian Kekuatan

            Kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Usaha maksimal ini dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tahanan. Kekuatan merupakan unsur yang sangat penting dalam aktivitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya penggerak, dan pencegah cedera. Selain itu kekuatan memainkan peranan penting dalam komponen-komponen kemampuan fisik yang lain misalnya power, kelincahan dan kecepatan. Dengan demikian kekuatan merupakan faktor utama untuk menciptakan prestasi yang optimal.

Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau kelompok otot untuk melakukan kerja, dengan menahan beban yang diangkatnya. Otot yang kuat akan membuat kerja otot sehari-hari secara efisien seperti, mengangkat, menjinjing dan lain-lain serta mereka akan membuat bentuk tubuh menjadi lebih baik. Otot-otot yang tidak terlatih karena sesuatu sebab, karena sesuatu kecelakaan misalnya, akan menjadi lemah. Karena serabutnya mengecil (atropi), dan kalau hal ini dibiarkan dapat mengakibatkan kelumpuhan otot (Sajoto, 1988 : 45).

Terdapat beberapa tipe kekuatan yang harus diketahui, yaitu kekuatan umum, kekuatan khusus, kekuatan maksimum, daya tahan kekuatan, kekuatan absolut dan kekuatan relatif (Bompa, 1993). Dengan mengetahui tipe kekuatan kita dapat melatihnya secara efektif. Misalnya, dengan mengetahui perbandingan antara berat badan dan kekuatan, kita dapat membandingkan kekuatan setiap siswa, dan ini merupakan petunjuk apakah siswa dapat melakukan beberapa keterampilan.

  1. Kekuatan Umum adalah kekuatan sistem otot secara keseluruhan. Kekuatan ini mendasari bagi latihan kekuatan siswa secara menyeluruh, oleh karena karenanya harus dikembangkan semaksimal mungkin.
  2. Kekuatan Khusus, merupakan kekuatan otot tertentu yang berkaitan dengan gerakan tertentu pada cabang olahraga.
  3. Kekuatan Maksimum adalah daya tinggi yang dapat ditampilkan oleh sistim saraf otot selama kontraksi volunter (secara sadar) yang maksimal. Ini ditunjukkan oleh beban terberat yang dapat dianggkat dalam satu kali usaha.
  4. Dayatahan Kekuatan ditampilkan dalam serangkaian gerak yang bersinambung mulai dari bentuk menggerakkan beban ringan berulang-ulang, daya tahan dikelompokkan menjadi tiga :
  • Ø Kerja singkat (intensitas kerja tinggi, diatas 30 detik).
  • Ø Kerja sedang (intensitas sedang yang dapat berakhir sampai empat menit).
  • Ø Durasi kerja lama (intensitas kerja rendah).
  1. Kekuatan Absolut merupakan kemampuan siswa untuk melakukan usaha yang maksimal tanpa memperhitungkan berat badannya.
  2. Kekuatan Relatif adalah kekuatan yang ditunjukkan dengan perbandingan antara kekuatan absolut (Absolut Strength) dengan berat badan (Body Weight). Dengan demikian kekuatan relatif tergantung pada berat badan, semakin berat badan seseorang semakin besar peluangnya untuk menampilkan kekuatannya. Kekuatan relatif sangat penting pada cabang olahraga senam dan cabang yang dibagi ke dalam kategori berdasarkan berat badan.

2.2.1        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan

Disamping unsur-unsur fisiologis yang dimiliki seseorang ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan otot. Faktor-faktor tersebut adalah termasuk biomekanika, sistem pengungkit, ukuran otot, jenis kelamin, dan faktor umur.

Faktor-faktor itu diantaranya adalah :

  1. Faktor Biomekanika

Sangat dimungkinkan bahwa dari dua orang yang mempunyai jumlah tegangan tangan otot yang sama, akan jauh berbeda dalam kemampuanya mengangkat beban.

  1. Faktor Pengungkit

Meperhitungkan letak beban yang secara mekanika yang tepat dan benar. Tentang pengungkit diklasifikasikan dalam tiga kelas, yaitu dibagi menurut letak sumbu pengungkit, gaya beban, dan gaya gerak mengangkat.

Klasifikasi ketiga    : letak gaya berada diantara sumbu dengan gaya beban.

Klasifikasi kedua    : letak beban diantara sumbu dengan gaya angkat.

Klasifikasi pertama : letak sumbu berada diantara gaya beban dengan gaya angkat.

  1. Faktor Ukuran

Walaupun wanita yang mengikuti program latihan beban akan kembang kekuatannya, dengan rata-rata perkembangannya sama dengan rata-rata perkembangan pria. Dan walaupun diketahui pula bahwa, kekuatan otot laki-laki dan wanita centimeter perseginya sama besar. Kenyataanya menunjukkan bahwa pada akhir masa puber, anak laki-laki mulai memiliki otot lebih besar dibanding wanita. Maka latihan-latihan kekuatan akan memberi keuntungan lebih baik bagi anak laki-laki dibanding bagi wanita. Penelitian oleh Westcott (1974, 1976, 1979), menunjukkan bukti tersebut.

  1. Faktor Usia

Unsur kekuatan laki-laki dan wanita diperoleh melalui proses kematangan atau kedewasaan. Apabila mereka tidak berlatih dengan beban, maka pada umur 25 tahun, kekuatan mereka akan mengalami kemunduran. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun wanita sama-sama kekuatannya, bila mereka mengikuti latihan beban atau weig-training.

2.2.2 Gerak Latihan Kekuatan

            Program latihan peningkatan kekuatan otot yang paling efektif adalah, program latihan dengan memakai beban atau “Weiight Training Program” (J.P. O’Shea, 1976: Philip J. Rasch 1882: Wayne L. Westrn 1983: E.L Fok, 1984).

O’Shea menyatakan bahwa latihan berbeban mempunyai dua fisiologi yang dapat mengembangkan kekuatan secara maxsimum. Terutama bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID”, yaitu (Specific Adaptation to Imposed Demands). Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya bersifat khusus, sesuai sasaran yang memenuhi syarat untuk tujuan itu. Sedangkan bila untuk tujuan endurance, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan tersebut pula. Dengan berprinsip kepada SAID tersebut, diharapkan pengaruh latihan dapat dirasakan secara maximum. Oleh karena besar beban latihan yang diberikan harus dapat diterima oleh tubuh dalam berlatih.

Kedua, bahwa latihan haruslah diberikan dengan prinsip overlap. Prinsip ini akan menjamin agar sistem didalam tubuh yang menjalani latihan, mendapat tekanan beban yang besarnya makin meningkat, diberikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Apabila tidak diberikan secara bertahap, maka komponen kekuatan tidak akan dapat mencapai tahap potensi sesuai fungsi kekuatan secara maksimal.

Terdapat masalah latihan beban atau weig-training, Edwar Fox, 1984, yang sekarang mendapat serta teorinya masih dianggap cukup baik. Menyatakan bahwa program latihan beban hendak dapat berpedoman pada empat prinsip yang cukup mendasar, yaitu :

  1. Prinsip penambahan beban latihan, atau overload.

Dengan prinsip overload, maka otot akan berimbang secara efektif. Penggunaan beban secara overload dapat merangsang penyesuaian fisiologis dalam tubuh, yang mendorong meningkatnya kekuatan otot.

  1. Prinsip peningkatan beban secara terus menerus.

Otot yang menerima beban latihan atau overload kekuatan akan bertambah. Dan apabila kekuatan bertambah beban, maka program latihan berikutnya, bila tidak ada penambahan beban, tidak ada lagi penambahan kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit dan pada saat suatu set dan dalam jumah repetisi tertentu, otot umum merasakan lelah. Prinsip penambahan demikian, dinamakan prinsip penerapan penambahan beban secara progresif.

  1. Prinsip urutan pengaturan suatu latihan otot.

Latihan beban hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga kelompok otot besar mendapat giliran latihan lebih dulu, sebelum latihan kelompok otot kecil. Hal ini perlu agar kelompok otot besar mendapat giliran latihan. Pengaturan latihan hendaknya diperganti sedemikian rupa, hingga tidak terjadi dua bagian otot dalam tubuh yang sama, mendapatkan giliran latihan secara berurutan.

  1. Prinsip latihan kekhususan program latihan

Kekhususan dalam prinsip ini merupakan kekhususan pada otot yang dilatih, kekhususan terhadap pola gerak yang diharapkan, kekhususan sistem energi (predominant energy system), kekhususan terhadap sudut jenis kontraksi, kekhususan terhadap sudut sendi (joint angle).

Fungsi otot adalah untuk berkontraksi dan menggerakkan anggota-anggota tubuh. Berdasarkan kontraksi otot yang sedang berkerja maka latihan tahanan dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu :

a)    Kontraksi Isotonis

Kontraksi isotonis adalah kontraksi otot yang menunjukkan terjadinya perubahan panjang dan pendek otot. Kontraksi isotonis disebut juga kontraksi konsentris atau dinamis (dinamic countraction).

b)   Kontraksi Isometris

Kontraksi isometris tidak tanpak perubahan panjang atau pendeknya otot dan tidak terlihat adanya gerakan. Salah satu dari kontraksi isometris adalah kontraksi statis.

c)    Kontraksi Eksentrik

Kontraksi eksentrik biasanya terjadi pemendekan atau panjang otot tetap. Akan tetapi, adakalanya ada perpanjangan otot pada waktu kontraksi.

d)   Kontraksi Isokinetik

Kontraksi isokinetik adalah kontaksi yang timbul pada otot saat menjadi pendek dengan kecepatan (kinetik) yang sama (iso).

 

2.3      Pengertian Power

Power atau daya ledak otot disebut juga sebagai kekuatan eksplosif (Pyke dan Watson, 1978). Power menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang secepat-cepatnya. Bahkan yang dikemukakan oleh Hatfield (1989) yaitu : power merupakan hasil perkalian antara gaya (force) dan jarak (distance) dibagi dengan waktu (time) atau dapat juga power dinyatakan sebagai kerja bagi waktu (Kirkendall, 1987).

 

2.4      Pengertian Kecepatan

Kecepatan adalah kemampuan bergerak dengan kemungkinan kecepatan tercepat. Ditinjau dari sistem gerak, kecepatan adalah kemampuan dasar mobilitas sistem saraf pusat dan perangkat otot untuk menampilkan gerakan-gerakan pada kecepatan tertentu. Dari sudut pandang mekanika, kecepatan diekspresikan sebagai rasio antara jarak dan waktu (Bompa: 1990). Kecepatan merupakan gabungan dari tiga elemen, yakni waktu reaksi, frekuensi gerakan per unit waktu, kecepatan menempuh suatu jarak.

Kecepatan adalah salah satu kemampuan biomotorik yang penting untuk melakukan aktivitas olahraga (Bompa: 1990). Menurut Jonath et. Al. (1997) Di dalam gerakan dasar manusia, massa adalah tubuh atau salah satu anggota tubuh dan tenaga merupakan kekuatan otot yang digunakan seseorang menurut massa yang digerakkan.

Ozolin dalam Bompa (1990), kecepatan dibedakan menjadi dua macam, yakni kecepatan umum dan kecepatan khusus.

  1. Kecepatan Umum

Kecepatan umum adalah kapasitas untuk melakukan berbagai macam gerakan (reaksi motorik) dengan cara cepat.

  1. Kecepatan Khusus

Kecepatan khusus adalah kapasitas untuk melakukan suatu latihan atau keterampilan pada kecepatan tertentu, biasanya sangat tinggi. Kecepatan khusus adalah khusus untuk tiap cabang olahraga dan sebagian besar tidak dapat ditransferkan, dan hanya mungkin dikembangkan melalui metode khusus.

Berdasarkan struktur gerak, kecepatan gerak dibedakan menjadi kecepatan asiklis, siklis, dan kecepatan dasar.

  1. Kecepatan Asiklis

Kecepatan asiklis adalah kecepatan gerak yang dibatasi oleh faktor-faktor yang terletak pada otot, yakni : kekuatan statis, kecepatan kontraksi otot, kerja otot-otot antagonis, panjang pengungkit, dan massa yang digerakkan.

  1. Kecepatan Siklis

Kecepatan sikis adalah produk yang dihitung dari frekuensi dan amplitudo gerak.

  1. Kecepatan Dasar

Kecepatan dasar sebagai kecepatan maksimal yang dapat dicapai dalam gerak siklis adalah produk maksimal yang dapat dicapai dari frekuensi dan amplitudo.

 

2.5  Latihan Push-Up

Dalam mengembangkan latihan fisik dapat dilakukan dengan cara penguatan sekelompok otot, maka perlu diusahakan peningkatan kemampuan kekuatan otot melalui latihan beban, diantaranya seperti latihan push-up. Latihan push-up adalah suatu bentuk latihan gerakan naik turun dari sikap tiarap tumpu dengan punggung lurus dan kepala pada garis lurus wajar dengan ruas-ruas tulang belakang. Kedua lengan selebar bahu. Latihan push up yang teratur dan disiplin akan menguatkan otot-otot lengan yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan serangan tangan.

Menurut Irwansyah (2006: 6) latihan push up atau kekuatan kemampuan seseorang untuk menerima, mengangkat, dan mendorong beban secara maksimal. Tujuan push up adalah untuk melatih kekuatan otot lengan dan tangan. Latihan push up yang dilakukan dengan rutin akan dapat meningkatkan kemampuan kekuatan.

Menurut Radclifee (http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1520814.pdf), ”pengaruh latihan push up terhadap pukulan yaitu kekuatan dan kecepatan”. Gerakan push up yang dilakukan secara rutin dan terprogram akan dapat meningkatkan daya tahan otot lengan yang mana sangat berguna dalam beberapa cabang olahraga. Latihan push up juga bukan hanya untuk kekuatan otot lengan dan tangan namun juga dapat melatih kecepatan pukulan.

 

 

 

 

 

 

Gambar 4 : Latihan push-up

Sumber : http://maria.web.id/taekwondo/tujuan-latihan-push-up.html

 

2.6 Anggapan Dasar

“Anggapan dasar atau kerangka berpikir adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan kajian kepustakaanya” (Riduwan, 2009: 8). Dari pengertian anggapan dasar di atas, maka yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini yaitu latihan push up berpengaruh pada kecepatan serangan tangan (pukulan depan) pada cabang olahraga pencak silat.

 

2.7 Hipotesis

“Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori atau kajian teori dan masih harus diuji kebenaranya” (Riduwan, 2009: 37). Dari pengertian, maka hipotesis dari permasalahan ini adalah latihan push up berpengaruh positif terhadap kecepatan serangan tangan pada cabang olahraga pencak silat siswa kelas VII SMP Negeri 8 Palembang tahun pelajaran 2010/2011.

2.8 Kriteria Pengujian Hipotesis

Kriteria untuk pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah :

  1. Ho ditolak jika t hitung < t tabel : tidak ada pengaruh latihan push up terhadap kecepatan serangan tangan pada cabang olahraga pencak silat siswa kelas VII SMP Negeri 8 Palembang tahun pelajaran 2010/2011.
  2. Ha diterima jika t hitung ≥ t tabel : ada pengaruh latihan push up terhadap kecepatan serangan tangan pada cabang olahraga pencak silat siswa kelas VII SMP Negeri 8 Palembang tahun pelajaran 2010/2011.

Landasan Teori dan Pendekatan Sistem

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat komponen yang saling berkaitan, saling mendukung dan saling berhubungan erat antar komponen serta memiliki tujuan yang sama. Pendidikan berlangsung secara terus-menerus, tidak pernah berhenti (long live education). Dalam proses tersebut  yang terlibat dalam pendidikan dituntut untuk memikul tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang diharapkan.

Penyelenggaraan sistem pendidikan di sebuah negara memiliki perbedaan satu sama lain yang dipengaruhi oleh sistem sosial budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat dan negara tersebut. Kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas  ini  menjadi  agenda  penting  dan  strategis  bagi  setiap  bangsa  dan  Negara,  karena dengan  sumber  daya  manusia  berkualitaslah  sebuah  Negara  mampu  untuk  bertahan  dan  beradaptasi  dalam  setiap  perubahan  kehidupan  serta  melanjutkan  pembangunan-pembangunan jangka panjang dan penuh ketidakpastian.

Sistem  Pendidikan  Nasional  dapat  dijelaskan  dengan  dua  pengertian menurut (Suparlan  :  2008) yaitu pertama berdasarkan  fungsi, Pendidikan  Nasional  merupakan  sistem  penyelenggaraan  pendidikan  oleh  institusi  negara  Indonesia,  dalam  rangka mewujudkan  hak  menentukan  eksistensi  nasional  sebagai  sebuah  bangsa  dalam  bidang pendidikan.  Kedua berdasarkan  struktur,  Pendidikan Nasional  sebagai  sistem  adalah  keseluruhan  satuan  kegiatan  pendidikan  yang  direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam rangka menunjang ketercapaian tujuan nasional. Dari  penjelasan  diatas,  permasalahan yang akan dibahas yaitu : “ apa yang menjadi landasan teori dan pendekatan sistem dalam teknologi pendidikan”.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    PengertianSistem

Sistem berasal dari bahasa latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Sistem merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut. Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat elemen:

  • Objek,  yang dapat berupa bagian, elemen, maupun variabel.
  • Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.
  • Hubungan Internal, di antara objek-objek di dalamnya.
  • Lingkungan, tempat di mana sistem berada.

 

  1. B.     Landasan Teori sistem

Menurut Banathy, teori sistem adalah suatu ekspresi yang terorganisir dari  rangkaian berbagai  konsep  dan  prinsip  yang  saling  terkait  yang  berlaku  untuk  semua  sistem.  Terdapat  dua kelompok pendekatan dalam mendefinisikan sebuah sistem yaitu:

  1. Pendekatan Prosedur

Pendekatan  sistem  yang  lebih  menekankan  pada  prosedur  mendefinisikan  sistem  sebagai suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

 

 

 

  1. Pendekatan Komponen atau Elemen

Pendekatan  sistem  yang  lebih  menekankan  pada  komponen  atau  elemen  sehingga  sistem sebagai  sekelompok  elemen-elemen  yang  terintegrasi  dengan  maksud  yang  sama  untuk mencapai suatu tujuan.

Sistem memiliki klasifikasi yang dapat membedakan sistem yang satu dengan sistem yang lain, klasifikasi dari sistem sebagai berikut:

  1. Sistem Abstrak dan Sistem Fisik.

Sistem abstrak (abstract system) adalah sistem yang berisi gagasan atau konsep, misalnya sistem  teologi  yang  berisi  gagasan  tentang  hubungan  manusia  dan  tuhan.  Sedangkan sistem  fisik  (physical  system)  adalah  sistem  yang  secara  fisik  dapat  dilihat,  misalnya sistem komputer, sistem sekolah, sistem akuntansi dan sistem transportasi.

  1. Sistem Deterministik dan Sistem Probabilistik

Sistem  deterministik  (deterministic  system)  adalah  suatu  sistem  yang  operasinya  dapat diprediksi  secara  tepat,  misalnya  sistem  komputer.  Sedangkan  sistem  probabilistik (probabilistic  system)  adalah  sistem  yang  tak  dapat  diramal  dengan  pasti  karena mengandung  unsur  probabilitas,  misalnya  sistem  arisan  dan  sistem  sediaan,  kebutuhan rata-rata  dan  waktu  untuk  memulihkan  jumlah  sediaan  dapat  ditentukan  tetapi  nilai  yang tepat sesaat tidak dapat ditentukan dengan pasti.

  1. Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka

Sistem  tertutup  (closed  system)  adalah  sistem  yang  tidak  bertukar  materi,  informasi,  atau energi  dengan  lingkungan,  dengan  kata  lain  sistem  ini  tidak  berinteraksi  dan  tidak dipengaruhi  oleh  lingkungan,  misalnya  reaksi  kimia  dalam  tabung  yang  terisolasi. Sedangkan  sistem  terbuka  (open  system)  adalah  sistem  yang  berhubungan  dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya sistem perusahaan dagang.

  1. Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia

Sistem Alamiah (natural system) adalah sistem yang terjadi karena alam, misalnya sistem tata  surya.  Sedangkan  sistem  buatan  manusia  (human  made  system)  adalah  sistem  yang dibuat oleh manusia, misalnya sistem komputer.

  1. Sistem Sederhana dan Sistem Kompleks

Berdasarkan tingkat kerumitannya, sistem dibedakan menjadi sistem sederhana (misalnya sepeda) dan sistem kompleks (misalnya otak manusia).

Konsep dasar sistem secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.  Komponen-komponen sistem saling berhubungan satu sama.

2.  Suatu keseluruhan tanpa memisahkan komponen pembentukannya.

3.  Bersama-sama dalam mencapai tujuan.

4.  Memiliki input dan output.

5.  Terdapat proses yang merubah input menjadi output.

6.  Terdapat aturan

7.  Terdapat subsistem yang lebih kecil.

8.  Terdapat deferensiasi antar subsistem.

9.  Terdapat tujuan yang sama meskipun mulainya berbeda.

Untuk memahami atau mengembangkan  suatu sistem, maka perlu membedakan unsur-unsur dari  pembentukan  sebuah  sistem.  Berikut  ini  karakteristik  sistem  yang  dapat  membedakan suatu sistem dengan sistem yang lain.

  1. Tujuan (goal): Setiap sistem memiliki tujuan (goal) apakah hanya satu atau mungkin banyak dan tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda. Tujuan inilah yang menjadi pendorong yang mengarahkan sistem bekerja. Tanpa tujuan yang jelas, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali.
  2. Komponen  (component):  Kegiatan-kegiatan  atau  proses  dalam  suatu  sistem  yang mentransformasikan input menjadi bentuk setengah jadi (output). Komponen ini bisa merupakan subsistem dari sebuah sistem.
  3. Tenghubung  (interface):  Tempat  dimana  komponen  atau  sistem  dan  lingkungannya bertemu atau berinteraksi.
  4. Batasan  (boundary):  Penggambaran  dari  suatu  elemen  atau  unsur  yang  termasuk didalam sistem dan yang diluar sistem.
  5. Lingkungan  (environment):  Segala  sesuatu  diluar  sistem,  lingkungan  yang menyediakan asumsi, kendala dan input terhadap suatu system

 

  1. C.    Pendekatan Sistem dan Sistem Pendidikan

Pendekatan  sistem  merupakan  suatu  metode  ilmiah,  dimana  proses  pencapaian  hasil  atau tujuan  logis  dari  pemecahan  masalah  dilakukan  dengan  cara  efektif  dan  efisien. Penerapan pendekatan sistem ini dapat  membantu  mencapai  suatu  efek  sinergitis  dimana  tindakan-tindakan  berbagai  bagian yang berbeda dari sistem tersebut bila dipersatukan akan memiliki dampak  yang lebih besar dibandingkan  terpisah  bagian  demi  bagian.

Pendekatan  sistem  dapat  dihubungkan  dengan  analisis  kondisi  fisik  (misalnya:  sistem  tata surya,  rakitan  mesin),  dapat  dihubungkan  dengan  analisis  biotis  (misalnya:  jaring-jaring ekologis,  koordinasi  tubuh  manusia),  dan  dapat  dihubungkan  dengan  analisis  gejala  sosial (misalnya:  kehidupan  ekonomis,  gejala  pendidikan, dll).  Analisis  sistem  sosial relatif  lebih  rumit  dibanding  analisis  sistem  fisik  dan  sistem  biotis,  sistem  sosial  seperti sistem  pendidikan  pada  umumnya  bersifat  terbuka,  yaitu  suatu  sistem  yang  mudah dipengaruhi  oleh  kejadian-kejadian  di  luar  sistem  (rentan  terhadap  pengaruh  luar).

Pendekatan  sistem  diperlukan  apabila  kita  menghadapi  suatu  masalah  yang  kompleks sehingga diperlukan analisa terhadap permasalahan tadi, untuk memahami hubungan bagian dengan  bagian  lain  dalam  masalah  tersebut,  serta  kaitan  antara  masalah  tersebut  dengan masalah  lainnya.  Keuntungan  yang  diperoleh  apabila  pendekatan  sistem  ini  dilaksanakan antara lain :

  1. Jenis  dan  jumlah  masukan  dapat  diatur  dan  disesuaikan  dengan  kebutuhan  sehingga penghamburan  sumber,  tata  cara  dan  kesanggupan  yang  sifatnya  terbatas  akan  dapat dihindari.
  2. Proses  yang  dilaksanakan  dapat  diarahkan  untuk  mencapai  keluaran  sehingga  dapat dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
  3. Keluaran  yang  dihasilkan  dapat  lebih  optimal  serta  dapat  diukur  secara  lebih  cepat dan objektif.
  4. Umpan  balik  dapat  diperoleh  pada  setiap  tahap  pelaksanaan  program.  Jadi  pelbagai kemungkinan  yang tersedia dapat diperhitungkan, sehingga tidak  ada yang luput dari perhatian.  Sekalipun  demikian  bukan  berarti  pendekatan  sistem  tidak  mempunyai kelemahan,  salah  satu  kelemahan  yang  penting  adalah  dapat  terjebak  dalam perhitungan  yang  terlalu  rinci,  sehingga  menyulitkan  pengambilan  keputusan  dan dengan demikian masalah yang dihadapi tidak akan dapat diselesaikan.

Dalam  pendekatan  sistem  upaya  pemecahan  masalah  secara  menyeluruh  dilakukan  dengan analisa sistem. Beberapa analisa sistem di antaranya:

  1. Analisa  sistem  adalah  proses  untuk  menentukan  hubungan  yang  ada  dan  relevansi antara beberapa komponen (subsistem) dari suatu sistem yang ada.
  2. Analisa  sistem  adalah  suatu  cara  kerja  yang  dengan  mempergunakan  fasilitas  yang ada,  dilakukan  pengumpulan  pelbagai  masalah  yang  dihadapi  untuk  kemudian dicarikan  pelbagai  jalan  keluarnya,  lengkap  dengan  uraian,  sehingga  membantu administrator  dalam  mengambil  keputusan  yang  tepat  untuk  mencapai  tujuan  yang telah ditetapkan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam suatu analisa sistem yang baik adalah :

1.  Tentukan input dan output dasar dari sistem.

2.  Tentukan proses yang dilakukan di tiap-tiap tahap.

3.  Rancang perbaikan sistem dan lakukan pengujian dengan :

  • Fersibility : cari yang memungkinkan
  • Viability : kelangsungan
  • Cost : cari yang harganya murah/terjangkau
  • Effectiveness : dengan input yang sedikit, output besar.

4. Buat rencana kerja dan penunjukkan tenaga.

5. Implementasikan dan penilaian terhadap sistem yang baru.

Pendekatan sistem adalah satu kesatuan dalam:

  1. a  way  of  thinking  (filsafat  sistem),  yaitu  sebuah  paradigma  baru  dari  persepsi  dan penjelasan,  yang  diwujudkan  dalam  gabungan,  berpikir  holistik,  tujuan-mencari, hubungan  sebab  akibat,  dan  proses-penyelidikan  yang  fokus  dengan  titik  sasaran  dapat menggambarkan  suatu  rancang  bangun  atau  unsur  pendekatan  sistem  yang  akan bermanfaat  dan  mudah  diaplikasikan  pada  tugas-tugas  manajerial  dalam  konteks merumuskan strategi.
  2.  a  method  or  technique  of  analysis  (analisis  sistem),  yaitu  pengamatan  dan  pemeriksaan fenomena  yang  berhubungan  untuk  tujuan  memahami  cara  berinteraksi  dari  beberapa faktor  dan  mempengaruhi  kinerja  sebuah  sistem  dalam  periode  waktu  yang  lama (Reigeluth).  Analisis  sistem  menekankan  pada  metode  berfikir  dan  bekerja  mengenai bagaimana  menggunakan  sumber-sumber  yang  tersedia  secara  optimal  atau  pendekatan yang  bermanfaat  pada  proses  pengambilan  keputusan  baik  yang  dilakukan  pada  tingkat manajerial maupun operasional.
  3. a  managerial  style  (manajemen  sistem),  yaitu  menekankan  pada  metode  berfikir  dan bekerja  dengan  titik  sasaran  pada  upaya  pencarian  manfaat.  Manajemen  sistem menggunakan  metode  sintesis  (memadukan  semua  unsur  dalam  satu  kesatuan),  untuk mengintegrasikan  operasi  kerja  melalui  perencanaan  operasional  sehingga  jaringan hubungan  antar  komponen  menjadi  jelas  atau  pendekatan  yang  berguna  dalam pengelolaan organisasi-organisasi besar terutama dalam pengelolaan fungsi, proyek, atau program-program.

Salah satu model sistem yang sangat umum adalah model ”masukan-proses-hasil” :

 

 

 

 

 

Dalam suatu sistem tersebut antara masukan  dan  hasil  terdapat  sebuah  proses  yang  memiliki  banyak  komponen yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama. Sistem Pendidikan Nasional juga merupakan sebuah sistem  yang kompleks, dimana sumber-sumber masukan dari masyarakat ke dalam sistem pendidikan nasional dapat berupa informasi,  energi  atau  tenaga dan bahan-bahan. Hal ini dapat tergambar dari Sistem Pendidikan Nasional dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Pendidikan Nasional di bawah ini.

Terdapat  dua  jenis  masukan  dalam  bentuk  informasi,  yaitu :

  1. Informasi  produk

Berupa kualitas dan kuantitas peserta didik. Kualitas peserta  didik  meliputi  identitas,  latar  belakang  keluarga  (termasuk  sosial  ekonomi), kemampuan, minat, dan sebagainya. Kuantitas peserta didik menyangkut jumlah keseluruhan peserta didik dalam umur siap sekolah dan mempunyai kebutuhan untuk mengikuti kegiatan pendidikan

  1. Informasi  Operasional

Berupa  sumber  daya  kependidikan,  penghasilan nasional,  penghasilan  perkapita,  ilmu,  seni,  teknologi,  cita-cita  nasional  dan  segala  barang dan peralatan  yang dipergunakan dalam kegiatan pendidikan. Di samping  itu, juga termasuk informasi  lingkungan  meliputi  sistem  bio-sosial,  sistem  sosial  budaya,  sosial  ekonomi,  dan sosial politik.

Adapun  masukan  dalam  bentuk  energi  atau  tenaga  adalah  energi  manusia  yang meliputi  semua  pihak  yang  terlibat  dalam  penyelenggaraan  pendidikan  baik  peserta  didik, pendidik dan tenaga kependidikan. Masukan  lain berupa  bahan-bahan  adalah  sumber-sumber  Sistem  Pendidikan  Nasional non-manusia  seperti  kurikulum,  buku  pelajaran,  sarana  dan  prasarana  pendidikan  dan administrasi,  teknologi  pendidikan,  bangunan  dan  sebagainya serta termasuk masukan  berupa  penghasilan  nasional  dan  penghasilan  per  kapita  yang  tersedia  untuk membiayai seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Selanjutnya, proses dalam sistem pendidikan nasional meliputi komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan, yaitu sesuatu hal yang diharapkan dapat dicapai sepanjang proses. Tujuan  pada  akhir  keseluruhan  proses  adalah  tujuan  umum  atau  tujuan  nasional pendidikan.  Sedangkan  untuk  sampai  pada  akhir  proses,  terdapat  sederatan  tujuan yang disebut tujuan khusus. Tujuan-tujuan ini berfungsi sebagai pengarah operasional kegiatan pendidikan.
  2. Organisasi  Pendidikan,  yaitu  keseluruhan  tatanan  hubungan  antar  bagian-bagian  dan antar unsur-unsur dalam sebuah kesatuan sistem pendidikan nasional.
  3. Masa Pendidikan, yaitu jangka waktu kelangsungan seluruh kegiatan di sebuah satuan pendidikan.
  4. Prasarana  Pendidikan,  yaitu  segala  hal  yang  merupakan  penunjang  terselenggaranya proses pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.
  5. Sarana Pendidikan, yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat pendidikan dalam  mencapai  tujuan  pendidikan  dan  membantu  meningkatkan  efektivitas  dan efisiensi proses pendidikan.
  6. Isi  Pendidikan,  yaitu  semua  hal  atau  pengalaman  yang  perlu  dipelajari  oleh  peserta didik.
  7. Pendidik  dan  Tenaga  Kependidikan,  yaitu  pihak-pihak  yang  terlibat  dalam penyelenggaraan  dan  pelaksanaan  pendidikan  (guru,  pustakawan,  teknolog pendidikan, dan sebagainya).
  8. Peserta didik, yaitu semua anak, remaja, dan orang dewasa yang terlibat dalam.

Sistem instruksional merupakan dasar yang sangat penting dari semua komponen sistem pendidikan dan berdampak pada sistem keseluruhan. Hal ini dikarenakan, sistem instruksional atau level ruang kelas menjadi tempat pertemuan utama sebuah sistem dengan komponen ”masukan” yaitu peserta didik. Level inilah yang akan menentukan apakah tujuan pendidikan (umum dan khusus) dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Perubahan Sistemik dalam Pendidikan Analisis sistematik pertama dalam sistem pendidikan  Indonesia telah dilakukan pada tahun  1968  melalui  proyek  The  National  Assesment  of  Education.  Rekomendasi  yang dihasilkan  adalah  pada  aspek  kualitatif  dari  pendidikan  dasar,  di  antaranya  merevisi kurikulum yang ada, meningkatkan kualitas guru-guru pendidikan dasar, memanfaatkan radio pendidikan,  menyediakan  buku  teks,  dan  bahan  belajar  untuk  guru  setelah  dilakukan penataran dan pelatihan serta peningkatan supervisi sekolah.

Penggunaan media komunikasi seperti radio di atas merupakan awal dari penerapan teknologi pembelajaran  secara  formal.  Kemudian  teknologi  sebagai  alat  (tools)  berkembang  sebagai proses  dan  struktur.  Jacques  Ellul  (Miarso:  2007)  mengartikan  teknologi  sebagai  peranti, teknik, dan keseluruhan struktur dalam masyarakat, sehingga teknologi pembelajaran menjadi bagian dari pengertian teknologi secara luas. Teknologi  sebagai  proses  memberikan  pengertian  bahwa  pendidikan  juga  dapat diartikan sebagai satu teknologi, karena pendidikan merupakan proses untuk mempersiapkan sumber  daya  manusia  yang  terdidik  dan  berkualitas.  Pengertian  teknologi  sebagai  proses menghasilkan  berbagai  pandangan  yaitu :

  1. proses  tersebut  harus  rasional  dan  efisien,
  2. harus  menyistem,  karena  dalam  sistem  segala  sesuatu  akan  mempunyai  dampak  dan dipengaruhi  oleh  hal  lain  dalam  lingkungan,
  3. harus  bersistem,  yaitu  mempertimbangkan segala variabel yang mungkin berpengaruh dalam menentukan prosedur tindakan agar proses itu  efektif,  efisien  dan  serasi,
  4. melibatkan  berbagai  pihak  yang  berkepentingan,
  5. mengarah  pada  pemecahan  masalah  bersama,
  6. memadukan  berbagai  prinsip,  konsep  dan gagasan,  dan
  7. mempertimbangkan  kondisi  lingkungan  (lokal,  nasional  maupun  global) untuk mencapai tujuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

–          Landasan teori memuat teori-teori atau konsep-konsep dasar, yang diambil dari buku-buku acuan yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang diteliti sebagai tuntunan, untuk memecahkan masalah penelitian dan untuk merumuskan hipotesis.

–          Pengertian sistem, sistem berasal dari bahasa latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi.

–          Landasan teori sistem merupakan cara-cara berfikir dan bekerja dengan menggunakan konsep-konsep  teori  sistem  yang  relevan  ,  efektif  dan  efisien  dalam  memecahkan masalah. Pendekatan  sistem  telah  menjadi  suatu  metode  ilmiah  karena  merupakan  proses pencapaian hasil atau tujuan logis dari pemecahan masalah dengan cara efektif dan efisien.

–          Teknologi  Pembelajaran  dalam  perubahan  sistemik  dalam  sistem  pendidikan nasional  mampu  meningkatkan  nilai  tambah  terutama  dalam  peningkatan  mutu  pendidikan dan  pemerataan  akses  pendidikan. Oleh karena  itu  dibutuhkan  pengembangan-pengembangan  yang  lebih  besar  dan  bermakna  agar peranan  Teknologi  Pembelajaran  mampu  meningkatkan  pembangunan  pendidikan  di  masa depan.