Skripsi Pencak Silat

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Hakekat Pencak Silat

Pencak silat adalah cabang olahraga yang berupa hasil budaya manusia Indonesia untuk membela / mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan intergritas terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup, meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sucipto, 2001:27).

Pencak di definisikan sebagai gerak dasar beladiri yang terikat pada aturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan. Silat dapat diartikan sebagai gerak beladiri yang sempurna yang bersumber pada kerohanian yang suci murni guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, serta untuk menghindarkan manusia dari bencana/bahaya. Peranan pencak silat adalah  sebagai sarana dan prasarana untuk membentuk manusia seutuhnya yang sehat, kuat, tangkas, terampil, sabar, ksatria, dan percaya diri.

Pencak silat mempunyai 4 aspek yang mencakup nilai-nilai luhur sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan, aspek tersebut meliputi :

  1.   Aspek Mental Spiritual

-          Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

-          Tenggang rasa, percaya diri dan disiplin.

-          Cinta bangsa dan tanah air.

-          Solidaritas social, jujur, membela kebenaran dan keadilan.

  1. Aspek Beladiri

-          Berani dalam membela kebenaran dan keadilan.

-          Tahan uji dan tabah.

-          Tangguh dan ulet.

-          Tanggap, peka, dan cermat.

  1. Aspek Seni

-          Mengembangkan pencak silat sebagai budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur.

-          Mengembangkan pencak silat yang diarahkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian bangsa.

-          Mencegah penonjolan secara sempit nilai-nilai pencak silat yang bersifat kedaerahan.

-          Menanggulangi pengaruh kebudayaan asing yang negatif.

  1. Aspek olahraga

-          Berlatih dan melaksanakan olahraga pencak silat sebagi bagian dari kehidupan sehari-hari.

-          Meningkatkan prestasi.

-          Menjunjung tinggi solidaritas.

-          Pantang menyerah

 

2.1.1        Sejarah Pencak Silat

Pencak silat merupakan salah satu unsur budaya peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang saat ini sudah berkembang sampai ke manca negara. Pencak silat adalah suatu cabang olahraga kebanggaan bangsa dan rakyat Indonesia yang lahir dan berkembang di bumi pertiwi untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan mencapai keselarasan hidup, serta meningkatkan iman dan taqwa kepada tuhan Yang Maha Esa.

Pada pesta-pesta olahraga baik tingkat regional, nasional, maupun internasional, pencak silat sudah sejajar kedudukannya dengan cabang olahraga lainnya. Hal ini telah terbukti dengan dibentuknya Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT) pada tanggal 1 Maret 1980. Dengan demikian pencak silat bukan saja milik bangsa Indonesia tetapi sudah milik bangsa-bangsa lain di Dunia.

 Para pendekar, dan perguruan progresif mengupayakan untuk membentuk pencak silat sebagai olahraga. Mereka berjuang keras untuk meyakinkan bahwa pencak silat perlu dikembangkan sebagi olahraga agar tidak musnah dimasyarakat. Alasannya, bahwa dengan berakhir masa peperangan, pencak silat sudah kehilangan peran sebagai saran bela diri. Dalam upaya mencari peran baru, yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, pencak silat sebaiknya dicoba untuk dipertandingkan.

Uji coba pertandingan pencak silat pertama diadakan antara pendekar-pendekar di Stadion Kalisari, Semarang tahun 1957. Pertandingan ini menggembirakan, karena berjalan dengan lancar, tanpa ada kecelakaan. Namun, uji coba di tempat lainnya tidak begitu berhasil, karena peraturan masih sangat longgar dan kontak antara pesilat tidak dibatasi. Akibatnya banyyak terjadi cedera, bahkan sampai mengakibatkan kematian. Selanjutnya, pencak silat hanya dijadikan acara demonstrasi di Pekan Olahraga Nasional I (PON I) tahun 1948 sampai PON ke-VII tahun 1969. Pencak silat untuk pertama kali tampil sebagai cabang olahraga prestasi dan dipertandingkan secara resmi yaitu pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta.

Sejak saat itu dapat dikatakan Pencak Silat Tanding mengalami perkembangan pesat, baik teknik-teknik yang terus diperhalus agar lebih efektif dan efisien dan tidak bersifat mencelakai, maupun dalam bidang pembinaan dan pelatihannya. Pembinaan dan pelatihan Pencak Silat semakin disesuaikan dengan ilmu dan prinsip-prinsip olahraga, yang secara umum menitikberatkan kepada kemampuan maksimal tubuh. Kemampuan tersebut dibedakan menjadi beberapa spesifikasi, yaitu : strength (kekuatan), endurance (daya tahan), speed (kecepatan), flexibelity (kelentukan), agility (kelicahan), fitness (kesegaran jasmani) dan reaction (reaksi) (Kosasih, 1993:21).

 

2.1.2        Teknik Dasar Pencak Silat

 “Gerak dasar pencak silat adalah suatu gerak terencana, terarah, terkoordinasi dan terkendali, yang mempunyai empat aspek sebagai satu kesatuan, yaitu aspek mental spiritual, aspek beladiri, aspek olahraga, dan aspek seni budaya. Dengan demikian, pencak silat merupakan cabang olahraga yang cukup lengkap untuk dipelajari karena memiliki empat aspek yang merupakan satu kesatuan utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan (Lubis, 2004 : 7).

Teknik dasar dalam cabang olahraga pencak silat, meliputi :

a). Kuda-kuda                                     e). Hindaran

b). Sikap pasang                                  f). Serangan

c). Pola langkah                                   g). Tangkapan

d). Belaan

Dalam pertandingan pencak silat teknik-teknik di bawah ini tidak semua digunakan dan dimainkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan kategori yang dipertandingkan. Kategori tersebut diantaranya :

-          Kategori tanding     : kategori yang menampilkan dua orang pesilat dari kubu yang berbeda.

-          Kategori tunggal     : kategori pertandingan pencak silat yang menampilkan seorang pesilat memperagakan kemahirannya dalam jurus baku tunggal secara benar, tepat, dan mantap, penuh penjiwaan dengan tangan kosong dan bersenjata.

-          Kategori ganda       : pertandingan pencak silat yang menampilkan dua orang pesilat dari kubu yang sama memperagakan kemahiran dan kekayaan teknik jurus beladiri pencak silat yang dimiliki dengan keterampilan serang dan bela.

-          Kategori regu          : pertandingan pencak silat yang menampilkan tiga orang pesilat dari kubu yang sama memperagakan kemahiran dalam jurus baku regu secara benar.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 : Target (pecing ped)

Sumber :http://www.mojokerto.info/sentra-industri/alat-bela-diri/

 

2.1.2.1 Serangan Tangan

Serangan tangan terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu : (1) serangan dengan tangan dan (2) serangan siku.

Ada beberapa serangan tangan, diantaranya :

-          Pukulan

Pukulan adalah semua jenis teknik menyerang yang dilakukan dengan menggunakan tangan dalam posisi terkepal. Teknik pukulan ada beberapa macam, yaitu : pukulan depan, pukulan samping, pukulan sangkol, dan pukulan lingkar.

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 : Pukulan depan

Sumber :Lubis (2004 : 22)

-          Sikuan

Teknik sikuan merupakan teknik yang efektif dipergunakan untuk pertarungan jarak dekat. Teknik sikuan ada beberapa macam, yaitu : sikuan dalam dan sikuan samping.

 

2.1.2.2 Serangan Kaki

Serangan kaki yang banyak dan sering digukanakan dalam pertandingan pencak silat terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya : tendangan lurus, tendangan sabit, dan tendangan T.

 

 

                                   

 

 

 

Gambar 3 : Tendangan Jejag

Sumber : Lubis (2004 : 26)

 

2.2 Pengertian Kekuatan

            Kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Usaha maksimal ini dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tahanan. Kekuatan merupakan unsur yang sangat penting dalam aktivitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya penggerak, dan pencegah cedera. Selain itu kekuatan memainkan peranan penting dalam komponen-komponen kemampuan fisik yang lain misalnya power, kelincahan dan kecepatan. Dengan demikian kekuatan merupakan faktor utama untuk menciptakan prestasi yang optimal.

Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau kelompok otot untuk melakukan kerja, dengan menahan beban yang diangkatnya. Otot yang kuat akan membuat kerja otot sehari-hari secara efisien seperti, mengangkat, menjinjing dan lain-lain serta mereka akan membuat bentuk tubuh menjadi lebih baik. Otot-otot yang tidak terlatih karena sesuatu sebab, karena sesuatu kecelakaan misalnya, akan menjadi lemah. Karena serabutnya mengecil (atropi), dan kalau hal ini dibiarkan dapat mengakibatkan kelumpuhan otot (Sajoto, 1988 : 45).

Terdapat beberapa tipe kekuatan yang harus diketahui, yaitu kekuatan umum, kekuatan khusus, kekuatan maksimum, daya tahan kekuatan, kekuatan absolut dan kekuatan relatif (Bompa, 1993). Dengan mengetahui tipe kekuatan kita dapat melatihnya secara efektif. Misalnya, dengan mengetahui perbandingan antara berat badan dan kekuatan, kita dapat membandingkan kekuatan setiap siswa, dan ini merupakan petunjuk apakah siswa dapat melakukan beberapa keterampilan.

  1. Kekuatan Umum adalah kekuatan sistem otot secara keseluruhan. Kekuatan ini mendasari bagi latihan kekuatan siswa secara menyeluruh, oleh karena karenanya harus dikembangkan semaksimal mungkin.
  2. Kekuatan Khusus, merupakan kekuatan otot tertentu yang berkaitan dengan gerakan tertentu pada cabang olahraga.
  3. Kekuatan Maksimum adalah daya tinggi yang dapat ditampilkan oleh sistim saraf otot selama kontraksi volunter (secara sadar) yang maksimal. Ini ditunjukkan oleh beban terberat yang dapat dianggkat dalam satu kali usaha.
  4. Dayatahan Kekuatan ditampilkan dalam serangkaian gerak yang bersinambung mulai dari bentuk menggerakkan beban ringan berulang-ulang, daya tahan dikelompokkan menjadi tiga :
  • Ø Kerja singkat (intensitas kerja tinggi, diatas 30 detik).
  • Ø Kerja sedang (intensitas sedang yang dapat berakhir sampai empat menit).
  • Ø Durasi kerja lama (intensitas kerja rendah).
  1. Kekuatan Absolut merupakan kemampuan siswa untuk melakukan usaha yang maksimal tanpa memperhitungkan berat badannya.
  2. Kekuatan Relatif adalah kekuatan yang ditunjukkan dengan perbandingan antara kekuatan absolut (Absolut Strength) dengan berat badan (Body Weight). Dengan demikian kekuatan relatif tergantung pada berat badan, semakin berat badan seseorang semakin besar peluangnya untuk menampilkan kekuatannya. Kekuatan relatif sangat penting pada cabang olahraga senam dan cabang yang dibagi ke dalam kategori berdasarkan berat badan.

2.2.1        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan

Disamping unsur-unsur fisiologis yang dimiliki seseorang ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan otot. Faktor-faktor tersebut adalah termasuk biomekanika, sistem pengungkit, ukuran otot, jenis kelamin, dan faktor umur.

Faktor-faktor itu diantaranya adalah :

  1. Faktor Biomekanika

Sangat dimungkinkan bahwa dari dua orang yang mempunyai jumlah tegangan tangan otot yang sama, akan jauh berbeda dalam kemampuanya mengangkat beban.

  1. Faktor Pengungkit

Meperhitungkan letak beban yang secara mekanika yang tepat dan benar. Tentang pengungkit diklasifikasikan dalam tiga kelas, yaitu dibagi menurut letak sumbu pengungkit, gaya beban, dan gaya gerak mengangkat.

Klasifikasi ketiga    : letak gaya berada diantara sumbu dengan gaya beban.

Klasifikasi kedua    : letak beban diantara sumbu dengan gaya angkat.

Klasifikasi pertama : letak sumbu berada diantara gaya beban dengan gaya angkat.

  1. Faktor Ukuran

Walaupun wanita yang mengikuti program latihan beban akan kembang kekuatannya, dengan rata-rata perkembangannya sama dengan rata-rata perkembangan pria. Dan walaupun diketahui pula bahwa, kekuatan otot laki-laki dan wanita centimeter perseginya sama besar. Kenyataanya menunjukkan bahwa pada akhir masa puber, anak laki-laki mulai memiliki otot lebih besar dibanding wanita. Maka latihan-latihan kekuatan akan memberi keuntungan lebih baik bagi anak laki-laki dibanding bagi wanita. Penelitian oleh Westcott (1974, 1976, 1979), menunjukkan bukti tersebut.

  1. Faktor Usia

Unsur kekuatan laki-laki dan wanita diperoleh melalui proses kematangan atau kedewasaan. Apabila mereka tidak berlatih dengan beban, maka pada umur 25 tahun, kekuatan mereka akan mengalami kemunduran. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun wanita sama-sama kekuatannya, bila mereka mengikuti latihan beban atau weig-training.

2.2.2 Gerak Latihan Kekuatan

            Program latihan peningkatan kekuatan otot yang paling efektif adalah, program latihan dengan memakai beban atau “Weiight Training Program” (J.P. O’Shea, 1976: Philip J. Rasch 1882: Wayne L. Westrn 1983: E.L Fok, 1984).

O’Shea menyatakan bahwa latihan berbeban mempunyai dua fisiologi yang dapat mengembangkan kekuatan secara maxsimum. Terutama bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID”, yaitu (Specific Adaptation to Imposed Demands). Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya bersifat khusus, sesuai sasaran yang memenuhi syarat untuk tujuan itu. Sedangkan bila untuk tujuan endurance, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan tersebut pula. Dengan berprinsip kepada SAID tersebut, diharapkan pengaruh latihan dapat dirasakan secara maximum. Oleh karena besar beban latihan yang diberikan harus dapat diterima oleh tubuh dalam berlatih.

Kedua, bahwa latihan haruslah diberikan dengan prinsip overlap. Prinsip ini akan menjamin agar sistem didalam tubuh yang menjalani latihan, mendapat tekanan beban yang besarnya makin meningkat, diberikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Apabila tidak diberikan secara bertahap, maka komponen kekuatan tidak akan dapat mencapai tahap potensi sesuai fungsi kekuatan secara maksimal.

Terdapat masalah latihan beban atau weig-training, Edwar Fox, 1984, yang sekarang mendapat serta teorinya masih dianggap cukup baik. Menyatakan bahwa program latihan beban hendak dapat berpedoman pada empat prinsip yang cukup mendasar, yaitu :

  1. Prinsip penambahan beban latihan, atau overload.

Dengan prinsip overload, maka otot akan berimbang secara efektif. Penggunaan beban secara overload dapat merangsang penyesuaian fisiologis dalam tubuh, yang mendorong meningkatnya kekuatan otot.

  1. Prinsip peningkatan beban secara terus menerus.

Otot yang menerima beban latihan atau overload kekuatan akan bertambah. Dan apabila kekuatan bertambah beban, maka program latihan berikutnya, bila tidak ada penambahan beban, tidak ada lagi penambahan kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit dan pada saat suatu set dan dalam jumah repetisi tertentu, otot umum merasakan lelah. Prinsip penambahan demikian, dinamakan prinsip penerapan penambahan beban secara progresif.

  1. Prinsip urutan pengaturan suatu latihan otot.

Latihan beban hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga kelompok otot besar mendapat giliran latihan lebih dulu, sebelum latihan kelompok otot kecil. Hal ini perlu agar kelompok otot besar mendapat giliran latihan. Pengaturan latihan hendaknya diperganti sedemikian rupa, hingga tidak terjadi dua bagian otot dalam tubuh yang sama, mendapatkan giliran latihan secara berurutan.

  1. Prinsip latihan kekhususan program latihan

Kekhususan dalam prinsip ini merupakan kekhususan pada otot yang dilatih, kekhususan terhadap pola gerak yang diharapkan, kekhususan sistem energi (predominant energy system), kekhususan terhadap sudut jenis kontraksi, kekhususan terhadap sudut sendi (joint angle).

Fungsi otot adalah untuk berkontraksi dan menggerakkan anggota-anggota tubuh. Berdasarkan kontraksi otot yang sedang berkerja maka latihan tahanan dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu :

a)    Kontraksi Isotonis

Kontraksi isotonis adalah kontraksi otot yang menunjukkan terjadinya perubahan panjang dan pendek otot. Kontraksi isotonis disebut juga kontraksi konsentris atau dinamis (dinamic countraction).

b)   Kontraksi Isometris

Kontraksi isometris tidak tanpak perubahan panjang atau pendeknya otot dan tidak terlihat adanya gerakan. Salah satu dari kontraksi isometris adalah kontraksi statis.

c)    Kontraksi Eksentrik

Kontraksi eksentrik biasanya terjadi pemendekan atau panjang otot tetap. Akan tetapi, adakalanya ada perpanjangan otot pada waktu kontraksi.

d)   Kontraksi Isokinetik

Kontraksi isokinetik adalah kontaksi yang timbul pada otot saat menjadi pendek dengan kecepatan (kinetik) yang sama (iso).

 

2.3      Pengertian Power

Power atau daya ledak otot disebut juga sebagai kekuatan eksplosif (Pyke dan Watson, 1978). Power menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang secepat-cepatnya. Bahkan yang dikemukakan oleh Hatfield (1989) yaitu : power merupakan hasil perkalian antara gaya (force) dan jarak (distance) dibagi dengan waktu (time) atau dapat juga power dinyatakan sebagai kerja bagi waktu (Kirkendall, 1987).

 

2.4      Pengertian Kecepatan

Kecepatan adalah kemampuan bergerak dengan kemungkinan kecepatan tercepat. Ditinjau dari sistem gerak, kecepatan adalah kemampuan dasar mobilitas sistem saraf pusat dan perangkat otot untuk menampilkan gerakan-gerakan pada kecepatan tertentu. Dari sudut pandang mekanika, kecepatan diekspresikan sebagai rasio antara jarak dan waktu (Bompa: 1990). Kecepatan merupakan gabungan dari tiga elemen, yakni waktu reaksi, frekuensi gerakan per unit waktu, kecepatan menempuh suatu jarak.

Kecepatan adalah salah satu kemampuan biomotorik yang penting untuk melakukan aktivitas olahraga (Bompa: 1990). Menurut Jonath et. Al. (1997) Di dalam gerakan dasar manusia, massa adalah tubuh atau salah satu anggota tubuh dan tenaga merupakan kekuatan otot yang digunakan seseorang menurut massa yang digerakkan.

Ozolin dalam Bompa (1990), kecepatan dibedakan menjadi dua macam, yakni kecepatan umum dan kecepatan khusus.

  1. Kecepatan Umum

Kecepatan umum adalah kapasitas untuk melakukan berbagai macam gerakan (reaksi motorik) dengan cara cepat.

  1. Kecepatan Khusus

Kecepatan khusus adalah kapasitas untuk melakukan suatu latihan atau keterampilan pada kecepatan tertentu, biasanya sangat tinggi. Kecepatan khusus adalah khusus untuk tiap cabang olahraga dan sebagian besar tidak dapat ditransferkan, dan hanya mungkin dikembangkan melalui metode khusus.

Berdasarkan struktur gerak, kecepatan gerak dibedakan menjadi kecepatan asiklis, siklis, dan kecepatan dasar.

  1. Kecepatan Asiklis

Kecepatan asiklis adalah kecepatan gerak yang dibatasi oleh faktor-faktor yang terletak pada otot, yakni : kekuatan statis, kecepatan kontraksi otot, kerja otot-otot antagonis, panjang pengungkit, dan massa yang digerakkan.

  1. Kecepatan Siklis

Kecepatan sikis adalah produk yang dihitung dari frekuensi dan amplitudo gerak.

  1. Kecepatan Dasar

Kecepatan dasar sebagai kecepatan maksimal yang dapat dicapai dalam gerak siklis adalah produk maksimal yang dapat dicapai dari frekuensi dan amplitudo.

 

2.5  Latihan Push-Up

Dalam mengembangkan latihan fisik dapat dilakukan dengan cara penguatan sekelompok otot, maka perlu diusahakan peningkatan kemampuan kekuatan otot melalui latihan beban, diantaranya seperti latihan push-up. Latihan push-up adalah suatu bentuk latihan gerakan naik turun dari sikap tiarap tumpu dengan punggung lurus dan kepala pada garis lurus wajar dengan ruas-ruas tulang belakang. Kedua lengan selebar bahu. Latihan push up yang teratur dan disiplin akan menguatkan otot-otot lengan yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan serangan tangan.

Menurut Irwansyah (2006: 6) latihan push up atau kekuatan kemampuan seseorang untuk menerima, mengangkat, dan mendorong beban secara maksimal. Tujuan push up adalah untuk melatih kekuatan otot lengan dan tangan. Latihan push up yang dilakukan dengan rutin akan dapat meningkatkan kemampuan kekuatan.

Menurut Radclifee (http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1520814.pdf), ”pengaruh latihan push up terhadap pukulan yaitu kekuatan dan kecepatan”. Gerakan push up yang dilakukan secara rutin dan terprogram akan dapat meningkatkan daya tahan otot lengan yang mana sangat berguna dalam beberapa cabang olahraga. Latihan push up juga bukan hanya untuk kekuatan otot lengan dan tangan namun juga dapat melatih kecepatan pukulan.

 

 

 

 

 

 

Gambar 4 : Latihan push-up

Sumber : http://maria.web.id/taekwondo/tujuan-latihan-push-up.html

 

2.6 Anggapan Dasar

“Anggapan dasar atau kerangka berpikir adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan kajian kepustakaanya” (Riduwan, 2009: 8). Dari pengertian anggapan dasar di atas, maka yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini yaitu latihan push up berpengaruh pada kecepatan serangan tangan (pukulan depan) pada cabang olahraga pencak silat.

 

2.7 Hipotesis

“Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori atau kajian teori dan masih harus diuji kebenaranya” (Riduwan, 2009: 37). Dari pengertian, maka hipotesis dari permasalahan ini adalah latihan push up berpengaruh positif terhadap kecepatan serangan tangan pada cabang olahraga pencak silat siswa kelas VII SMP Negeri 8 Palembang tahun pelajaran 2010/2011.

2.8 Kriteria Pengujian Hipotesis

Kriteria untuk pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah :

  1. Ho ditolak jika t hitung < t tabel : tidak ada pengaruh latihan push up terhadap kecepatan serangan tangan pada cabang olahraga pencak silat siswa kelas VII SMP Negeri 8 Palembang tahun pelajaran 2010/2011.
  2. Ha diterima jika t hitung ≥ t tabel : ada pengaruh latihan push up terhadap kecepatan serangan tangan pada cabang olahraga pencak silat siswa kelas VII SMP Negeri 8 Palembang tahun pelajaran 2010/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s